- Back to Home »
- ISRO MI'RAJ NABI BESAR MUHAMMAD SAW
Posted by : hernawatina7@gmail.com
Sabtu, 16 Mei 2015
KISAH PERJALANAN ISRA MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW
Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW – Seringkali di
kalangan masyarakat kita, dalam mendefinisikan isra dan mi’raj, mereka
menggabungkan Isra Mi’raj menjadi satu peristiwa yang sama.
Padahal sebenarnya Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dan
untuk meluruskan hal tersebut, pada kesempatan ini saya bermaksud mengupas
tuntas pengertian isra dan mi’raj, sejarah isra mi’raj nabi muhammad
SAW serta hikmah dari perjalanan isra’ mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.
Pengertian / Definisi
Isra dan Mi’raj
Isra Mi’raj adalah dua
bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam
saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam,
karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat
perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.
Isra Mi’raj terjadi
pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj
terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut
al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10
kenabian, dan inilah yang populer.
Namun demikian, Syaikh
Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena
Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian,
yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima
waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra
Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui
secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.
Peristiwa Isra Mi’raj
terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil
Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke
Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat
perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
Bagi umat Islam,
peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah
salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan
sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga
dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.
Sejarah / Kisah
Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Perjalanan dimulai
Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan
kerjakan shalat”.
Rasulullahpun turun.
Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”
“tidak tahu”, kata
Rasul.
“Engkau berada di
Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.
Perjalanan dilanjutkan
ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir,
kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi
(Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di
Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.
Jibril menurunkan
Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata
telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”
“Saudaramu para Nabi
dan Rasul”.
Kemudian Jibril
membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang
sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh
langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit
tujuh dan ke Sidratul Muntaha.
“Dan sesungguhnya nabi
Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat
tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang
dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat
sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm :
13 – 18).
Selanjutnya Rasulullah
melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca
yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan
kebaikan“.
Allah berfirman yang
artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca lagi
yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh.
Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.
Berfirman Allah SWT :
“Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil
Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman
kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah
dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath
(adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah
engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.
“Kembalilah kepada
umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.
Kemudian Rasul turun
ke Sidratul Muntaha.
Jibril berkata :
“Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak
pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat
maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang
tak seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya.
Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa
kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan
tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang
menyukai orang-orang yang bersyukur”.
Lalu Rasul memuji
Allah atas semua itu.
Kemudian Jibril
berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi
milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada,
dan sampai lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku
biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan
sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa
yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak
terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya
dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum
untuk seperti inilah mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan
neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya
selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang
subuh.
Mandapat Mandat Shalat
5 waktu
Agaknya yang lebih
wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa
Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat
78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima
waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.
Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual
individual hubungannya dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk
menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh
kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila
pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan
dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani
kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel
bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah
seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas
hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa
pendapat Carrel pun, Al – Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa
shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan
mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan
beretika.
Hikmah Isra Mi’raj
Nabi Besar Muhammad SAW
Perintah sholat dalam
perjalanan isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi ibadah wajib
bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan
ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun
perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung
kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).
Bersandar pada alasan
inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang
berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini, berupaya memberikan peta yang cukup
komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi
Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa
ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup
gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.
Selain itu, buku ini
juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan mendalam
kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini,
termasuk mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit?
Apakah Allah berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami
orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita
teladani?
Bagaimana dengan
mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana dengan mikraj kita sebagai
muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? Semua dibahas secara gamblang
dalam buku ini.
Dalam pengertiannya,
Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata”
biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang
akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd
dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic
Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra
Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup
Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj,
menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan
dunia spiritual.
Jika perjalanan hijrah
dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin,
atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci
Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju
sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan
ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah
perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.
Inilah perjalanan yang
amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin
Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika
Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat
Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”;
“Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”.
Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi
wabarakaatuh”.
Mendengar percakapan
ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari
ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari
bacaan shalat.
Selain itu, Seyyed
Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993)
mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj
mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam
sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman.
Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah
SAW ini.
Pertama, adanya
penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua,
kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan
perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan
kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah
terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian
itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang
yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan
kembali kepada-Nya.”
Mengacu pada berbagai
aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena
selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj
Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa
wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai
kisah Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan
rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.
Ia menggambarkan
rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh
perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu
selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah
menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang
menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj
menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.
Melihat foto di atas,
mungkin banyak dari kita akan segera memilih foto sebelah kanan sebagai Masjid
Al-Aqsa. Namun percayalah, foto sebelah kiri yang berupa masjid dengan kubah
yang berwarna hijau itulah Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya.
Dewasa ini, telah
terjadi banyak kesalahpahaman diantara umat muslim tentang masjid Al-Aqsa yang
sebenarnya. Banyak umat muslim maupun non-muslim yang mempublikasikan foto
Masjid Al-Aqsa yang salah, tapi yang mengkuatirkan saat ini, kebanyakan umat
muslim memajang foto Qubbatus Shakrah (Kubah Batu/ Dome of The Rock) dirumah
maupun dikantor mereka dengan sebutan Masjid Al-Aqsa. Ini telah menjadi
kesalahan umum di dunia muslim.
Namun tragedi
sesungguhnya adalah bahwa kebanyakan generasi muda/ anak-anak muslim
(sebagaimana juga muslim dewasa) diseluruh dunia, tidak dapat membedakan antara
Masjid Al Aqsa dengan Qubbatus Shakrah (Kubah Batu).
Mengenal Kompleks
Masjid Al-Aqsa
Al-Masjid El-Aqsa
merupakan nama arab yang berarti Masjid terjauh. 10 tahun setelah Nabi Muhammad
SAW menerima wahyu pertama, beliau melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke
Baitul Maqdis (Jerusalem) dan kemudian menuju langit ketujuh untuk menerima
perintah sholat 5 waktu dari Allah, peristiwa ini disebut Isra’ Miraj.
Sebelum turun perintah
menjadikan Mekkah sebagai kiblat sholat umat muslim, selama 16 setengah bulan
setelah Isra Miraj, Jerusalem dijadikan arah kiblat.
Ketika masih hidup,
Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat muslim untuk tak hanya mengunjungi Mekkah
tapi juga Masjid Al-Aqsa yang berjarak sekitar 2000 kilometer sebelah utara
Mekkah.
Masjid Al-Aqsa
merupakan bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di Mekkah, dan tempat suci dan
tempat terpenting ketiga setelah Mekkah dan Madinah.
Luas kompleks Masjid
Al-Aqsa sekitar 144.000 meter persegi, atau 1/6 dari seluruh area yang
dikelilingi tembok kota tua Jerusalem yang berdiri saat ini. Dikenal juga
sebagai Al Haram El Sharif atau oleh yahudi disebut Kuil Sulaiman. Kompleks
Masjid Al-Aqsa dapat menampung sekitar 400.000 jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung
sekitar 5.000 jamaah, selebihnya sholat di kompleks yang ber-area terbuka).
Pembangunan kembali
kompleks Masjid Al-Aqsa dimulai 6 tahun setelah Nabi wafat oleh Umar Bin
Khattab. Beliau menginginkan untuk dibangun sebuah masjid di selatan Foundation
Stone (membelakangi Foundation Stone, menghadap selatan/Mekkah). Pembangunan
tersebut dilakukan oleh Khalifah Ummayah Abd Al Malik Ibn Marwan dan
diselesaikan oleh anaknya Al Walid 68 tahun setelah Nabi wafat dengan diberi
nama Masjid Al Aqsha.
Di pusat kompleks Kuil
Sulaiman, terdapat Foundation Stone yaitu batu landasan yang dipercaya umat
Yahudi sebagai tempat Yahweh menciptakan alam semesta dan tempat Abraham
mengorbankan Isaac. Bagi umat Islam batu ini adalah tempat Nabi Muhammad
menjejakkan kakinya untuk Mi’raj. Untuk melindungi batu ini, Khalifah Abd Al
Malik Ibn Marwan membangun kubah dan masjid polygon, yang kemudian terkenal
dengan nama Dome of The Rock (Kubah batu).
Kekeliruan antara
Masjid Al-Aqsa dengan Dome of The Rock dan Agenda Israel menghapuskan Masjidil
Aqsa
Masjidil Aqsa
merupakan kiblat pertama bagi Umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka’bah dengan
perintah Allah SWT. Kini berada di dalam kawasan jajahan Yahudi. Dalam keadaan
yang demikian, disinyalir pihak Yahudi telah mengambil kesempatan untuk
mengelirukan pengetahuan Umat Islam dengan mengedarkan gambar Dome of The Rock
sebagai Masjidil Aqsa.
Tujuan mereka hanyalah
satu: untuk meruntuhkan Masjidil Aqsa yang sebenarnya dan mendirikan kembali
haikal Sulaiman. Saat ini, hanya “Tembok sebelah Barat” yang tersisa dari
bangunan kuil atau istana Sulaiman yang masih berdiri, dan pada saat yang
bersamaan tempat ini dinamakan “Tembok Ratapan/Wailing Wall” oleh orang Yahudi.
Apabila Umat Islam sendiri sudah keliru dan sulit untuk membedakan Masjidil
Aqsa yang sebenarnya, maka semakin mudahlah tugas mereka untuk melaksanakan
rencana tersebut, karena bila Masjid Al-Aqsa diruntuhkan, kebanyakan umat tidak
akan menyadarinya.
Berikut disertakan
terjemahan surat yang ditulis dan dikirimkan oleh Dr. Marwan kepada ketua
pengarang harian “Al-Dastour” tentang kekeliruan umat dan hubungannya dengan
rencana zionis.
- Terdapat beberapa kekeliruan
antara Masjidil Aqsa dan The Dome of The Rock. Apabila disebut tentang
Masjidil Aqsa di dalam media lokal maupun internasional, foto The Dome of
The Rock-lah yang ditampilkan. Alasannya adalah untuk mengalihkan
masyarakat umum yang merupakan siasat Israel. Tinjauan ini diperoleh saat
saya tinggal di USA, dimana saya telah mengetahui bahwa Zionis di Amerika
telah mencetak dan mengedarkan foto tersebut dan menjualnya kepada orang
arab dan Muslim. Kadangkala dijual dengan harga yang murah bahkan kadang
diberikan secara gratis agar Muslim dapat mengedarkannya dimana saja. Baik
dirumah maupun kantor.
Hal ini meyakinkan
saya bahwa Israel ingin menghapuskan gambaran Masjid Al-Aqsa dari ingatan umat
Islam supaya mereka dapat memusnahkannya dan membangun kuil mereka tanpa ada
publikasi. Bila ada yang membangkang atau memprotes, maka Israel akan
menunjukkan foto The Dome of The Rock yang masih utuh berdiri, dan menyatakan
bahwa mereka tidak berbuat apa-apa. Siasat yang sungguh pintar! Saya juga
merasa amat terperanjat ketika bertanya kepada beberapa rakyat arab, Muslim,
bahkan rakyat Palestina karena mendapati mereka sendiri tidak dapat membedakan
antara kedua bangunan tersebut. Ini benar-benar membuatkan saya merasa kesal
dan sedih karena hingga kini Israel telah berhasil dalam siasat mereka.
Dr. Marwan Saeed Saleh
Abu Al-Rub Associate Professor,
Mathematics Zayed
University Dubai
Demikianlah, dengan
kondisi yang mengkuatirkan ini, kita sebagai muslim hendaklah turut membantu
menyebarkan informasi yang benar kepada saudara kita dan dunia. Hal ini penting
dilakukan untuk menghindari distorsi informasi lebih jauh yang akhirnya akan
merugikan umat bila tidak disikapi dengan baik.
Wallahua’lam.